Praktikum Keterampilan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan Teknik Mempertahankan Hidup serta Keselamatan Diri di Laut

TPL IPB Bogor. Dosen penanggung jawab Mata Kuliah Keselamatan Perikanan Laut pada program Studi Teknologi Perikanan Laut Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Dr. Fis Purwangka, S.Pi, M.Si didampingi Asisten Dosen Hamba Ainul Mubarok, M.Si. Memimpin praktikum latihan memberikan bantuan hidup dasar (Basic life support) pertolongan pertama pada kecelakaan dengan sistem pernafasan dan sirkulasi pada korban yang disebut CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) dan teknik bertahan dan keselamatan diri di laut (Proficiency in personal survival techniques) sesuai dengan konvensi Internasional STCW 95.

Kegiatan berlangsung pada tanggal 3 Mei 2018 di kolam renang Tirta Kencana, Balio Dramaga Bogor, diikuti oleh 8 orang mahasiswa Program Studi Teknologi Perikanan Laut Sekolah Pascasarjana  Institut Pertanian Bogor Semester Genap Tahun Akademik 2017/2018.

Pentingnya keterampilan ini yang harus dikuasai oleh setiap orang guna memberikan bantuan hidup dasar (basic life support) salah satunya keterampilan resusitasi jantung paru (RJP) dan teknik bertahan dan keselamatan diri di laut (Proficiency in personal survival techniques).

CPR (Cardiopulmonary resuscitation) yang dalam bahasa Indonesia berarti Resusitasi Jantung Paru atau disebut juga dengan napas buatan yang bertujuan untuk membuka kembali jalan nafas yang menyempit atau tertutup pada saat terjadi kecelakaan. ”prinsipnya ketika ada korban segera putuskan kita mau tolong atau tidak jika tidak langsung cari bantuan medis untuk pertolongan pertama” Tuturnya.

Sebelum melakukan pertolongan pastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak dengan cara mengecek nadinya, jika tidak sadar segera melakukan pertolongan dan meminta pertolongan medis untuk segera melakukan pertolongan pada korban.

Tahap yang harus dilakukan saat memberikan pertolongan setelah cek nadi dengan segera lakukan tahapan Compression- Airway-Breathing (CAB) pada korban.

Compression dilakukan untuk memberikan rangsangan pada jantung dengan cara mengompresi dada pasien sebanyak 30 kali, kemudian lakukan Airway untuk membebaskan saluran pernafasan yang tersumbat dan yang terakhir lakukan Breathing dengan memberikan bantuan nafas dengan cara menghembuskan udara masuk ke paru-paru melalui mulut kita sebanyak dua kali hembusan. “setelah 30 kali compresi berikan nafas buatan 2 kali hembusan” pungkasnya.

Teknik mempertahankan hidup dan keselamatan diri (Proficiency in personal survival techniques) merupakan ketrampilan yang harus dimiliki oleh setiap orang  untuk dapat bertahan dan meyelamatkan diri di laut saat terjadi keadaan darurat, seperti kapal tenggelam, kebakaran, bocor, kandas dan tubrukan. “yang perlu dilakukan saat keadaan darurat di kapal adalah mencari alat keselamatan seperti life jacket dan lifebuoy sebelum terjun ke laut” tuturnya.

Pada praktikum penyelamatan diri di laut ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu penyelamatan diri dengan menggunakan alat keselamatan life jacket dan menggunakan alat keselamatan lifebuoy.

Gunakan life jacket dengan benar dan pastikan tidak mudah lepas ketika di laut, pencet atau tutup hidung dengan jari kemudian tangan yang lain disilangkan dan memegang life jacjet dengan kuat, pandangan ke depan kaki melangkah pada saat di udara kaki disilangkan atau lurus agar posisi badan lurus saat terjun di air. Setelah terjun di air menjauh dari kapal dan berkumpul membentuk lingkaran dengan teman yang lain, agar terpisah dan hilang sampai bantuan datang menolong kita.

Cara menggunakan lifebuoy di air, kita tunggu bantuan dari kapal untuk melempar lifebuoy ke laut kemudian kita masuk dari atas dengan cara menekan bagian depan dan membaliknya kearah kita, kemudian masuk ke pelampung.

 

Oleh :

Karyanto dan Etika Ariyanti Hidayat (TPL 54)

 

     

 

 

 

Fasilitasi Optimalisasi Pelabuhan Perikanan

Pelabuhan perikanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan perikanan tangkap secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena aktivitas perikanan tangkap berawal dan berakhir di pelabuhan perikanan. Keberadaannya dapat menjadi indikator perkembangan perikanan tangkap di suatu wilayah.

Namun demikian, sampai saat ini masih terdapat pelabuhan perikanan yang belum beroperasi secara maksimal, meskipun telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukungnya. Fasilitas tersebut dapat mencakup fasilitas pokok, fungsional dan penunjang. Salah satu faktot penentu keberhasilan pelabuhan perikanan adalah adanya partisipasi pelaku usaha perikanan (nelayan, pedagang, pengolah, dll).

Dalam upaya menggali dan membuat komitmen para pelaku perikanan ini, bertempat di Pelabuhan Perikanan (PPI Teluk Majelis) Kab. Tanjung Jabung Timur, Propinsi Jambi, Direktorat Pelabuhan Perikanan, Ditjen Perikaman Tangkap mengadakan kegiatan Rapat Koordinasi Optimalisasi Pelabuhan Perikanan Teluk Majelis. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 08 Mei 2018. Dr. Iin Solihin dan Akhmad Solihin, SPi MH diminta sebagai narasumber sekaligus fasilitator untuk merumuskan hal hal yang perlu dilakukan dalam upaya optimalisasi pelabuhan perikanan tersebut. Hadir pada kegiatan tersebut aparat pemerintahan di tingkat Propinsi Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Direktorat Pelabuhan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dalam diskusi yang berlangsung akrab dan santai tersebut berhasil digali berbagai keinginan para nelayan dan pemilik tangkahan berkaitan dengan operasional pelabuhan perikanan tersebut. Beberapa catatan penting dalam rapat koordinasi tersebut, bahwa para pihak menilai penting terhadap peran pelabuhan perikanan. namun pihak nelayan dan pedagang berharap, Pemerintah Pusat dan Pemerintah hadir memperbaiki dan melengkapi fasilitas pelabuhan perikanan, serta perlunya jaminan keamanan yang dicerminkan dengan hadirnya pemerintah dan petugas keamanan.

 

 

1 2 3 4 5 6 17