Training in use of Fish Aggregation Devices (FAD)

Use of Fish Aggregation Devices (FAD) or rumpon in Indonesian is a new form of technology for catching fish which has been used by Japanese fishermen since the 1970s. FAD are usually installed in the sea, both in shallow and deep waters. The latter are called deep water FAD. It is not certain what causes fish to aggregate or gather close to these FAD but the results of research show that the types of fish most attracted to FAD are pelagic fish like tuna (tongkol), Spanish mackerel (tenggiri), gembung etc.

Use of FAD is also one way of protecting coral reefs because the fish that usually collect near coral reefs will move (from the reefs) to the FAD so that fishing activities can be done without damaging reefs.

Training in the use of FAD was done for 25 days in Simeulue and Aceh Singkil District. The trainees were fishermen group organized by AOC (Aceh Ocean Coral). These group will later receive the FADs built during training.

Other fishermen, non-group member, whose interested were allowed to take part in the training. A total of 591 Aceh Singkil fishermen and 904 Simeulue fishermen attend the training.

Just as in the training for KJA, the FAD training was organized with ToT training then followed by field Field Level Training afterwards. The Chief Instructor of FAD training is Dr. Sulaeman Martasuganda from IPB Bogor, who has 42 years marine fisheries experience under his belt.

The training took over a whole day and covered definition, how to make and install, maintenance, positioning and fishing operations at FAD topics. Trainee were also trained to assemble a good FAD. “Actually we already know about FADs and their use”, said Afriadi, Teluk Nibung’s head of the fleet (panglima laot). “But usually the FAD made and positioned by our fisherman are very simple and didn’t last long”. The lack of good FADs according to Afriadi has been due to lack funds.

 

 

Sumber artikel :

http://library.had-int.org/ssfss-volume-iii-april-june-2011/

Praktikum Keterampilan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan Teknik Mempertahankan Hidup serta Keselamatan Diri di Laut

TPL IPB Bogor. Dosen penanggung jawab Mata Kuliah Keselamatan Perikanan Laut pada program Studi Teknologi Perikanan Laut Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Dr. Fis Purwangka, S.Pi, M.Si didampingi Asisten Dosen Hamba Ainul Mubarok, M.Si. Memimpin praktikum latihan memberikan bantuan hidup dasar (Basic life support) pertolongan pertama pada kecelakaan dengan sistem pernafasan dan sirkulasi pada korban yang disebut CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) dan teknik bertahan dan keselamatan diri di laut (Proficiency in personal survival techniques) sesuai dengan konvensi Internasional STCW 95.

Kegiatan berlangsung pada tanggal 3 Mei 2018 di kolam renang Tirta Kencana, Balio Dramaga Bogor, diikuti oleh 8 orang mahasiswa Program Studi Teknologi Perikanan Laut Sekolah Pascasarjana  Institut Pertanian Bogor Semester Genap Tahun Akademik 2017/2018.

Pentingnya keterampilan ini yang harus dikuasai oleh setiap orang guna memberikan bantuan hidup dasar (basic life support) salah satunya keterampilan resusitasi jantung paru (RJP) dan teknik bertahan dan keselamatan diri di laut (Proficiency in personal survival techniques).

CPR (Cardiopulmonary resuscitation) yang dalam bahasa Indonesia berarti Resusitasi Jantung Paru atau disebut juga dengan napas buatan yang bertujuan untuk membuka kembali jalan nafas yang menyempit atau tertutup pada saat terjadi kecelakaan. ”prinsipnya ketika ada korban segera putuskan kita mau tolong atau tidak jika tidak langsung cari bantuan medis untuk pertolongan pertama” Tuturnya.

Sebelum melakukan pertolongan pastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak dengan cara mengecek nadinya, jika tidak sadar segera melakukan pertolongan dan meminta pertolongan medis untuk segera melakukan pertolongan pada korban.

Tahap yang harus dilakukan saat memberikan pertolongan setelah cek nadi dengan segera lakukan tahapan Compression- Airway-Breathing (CAB) pada korban.

Compression dilakukan untuk memberikan rangsangan pada jantung dengan cara mengompresi dada pasien sebanyak 30 kali, kemudian lakukan Airway untuk membebaskan saluran pernafasan yang tersumbat dan yang terakhir lakukan Breathing dengan memberikan bantuan nafas dengan cara menghembuskan udara masuk ke paru-paru melalui mulut kita sebanyak dua kali hembusan. “setelah 30 kali compresi berikan nafas buatan 2 kali hembusan” pungkasnya.

Teknik mempertahankan hidup dan keselamatan diri (Proficiency in personal survival techniques) merupakan ketrampilan yang harus dimiliki oleh setiap orang  untuk dapat bertahan dan meyelamatkan diri di laut saat terjadi keadaan darurat, seperti kapal tenggelam, kebakaran, bocor, kandas dan tubrukan. “yang perlu dilakukan saat keadaan darurat di kapal adalah mencari alat keselamatan seperti life jacket dan lifebuoy sebelum terjun ke laut” tuturnya.

Pada praktikum penyelamatan diri di laut ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu penyelamatan diri dengan menggunakan alat keselamatan life jacket dan menggunakan alat keselamatan lifebuoy.

Gunakan life jacket dengan benar dan pastikan tidak mudah lepas ketika di laut, pencet atau tutup hidung dengan jari kemudian tangan yang lain disilangkan dan memegang life jacjet dengan kuat, pandangan ke depan kaki melangkah pada saat di udara kaki disilangkan atau lurus agar posisi badan lurus saat terjun di air. Setelah terjun di air menjauh dari kapal dan berkumpul membentuk lingkaran dengan teman yang lain, agar terpisah dan hilang sampai bantuan datang menolong kita.

Cara menggunakan lifebuoy di air, kita tunggu bantuan dari kapal untuk melempar lifebuoy ke laut kemudian kita masuk dari atas dengan cara menekan bagian depan dan membaliknya kearah kita, kemudian masuk ke pelampung.

 

Oleh :

Karyanto dan Etika Ariyanti Hidayat (TPL 54)

 

     

 

 

 

1 2 3 14