Legalisasi Cantrang: Perlu Kebijakan Berbasiskan Data dan Informasi

Kebijakan pelarangan cantrang dimulai sejak tahun 2015 melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) No. 2/Permen-KP/2015 yang kemudian digantikan dengan Permen KP No. 71/Permen-KP/2016. Kebijakan pelarangan tersebut menimbulkan tentangan, tidak hanya dari para pelaku usaha cantrang, akan tetapi juga dari pelaku usaha perikanan lainnya. Seperti pengolah dan pemasar ikan, transportasi, hingga pendukung usaha perikanan lainnya.

Tentangan atas kebijakan pelarangan tersebut menggambarkan bahwa usaha perikanan cantrang sangat kompleks dan dinamik.

Setidaknya itulah isu permasalahan yang menjadi alasan diselenggarakannya Diskusi Pakar Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, dengan topik: “Cantrang Diizinkan Beroperasi Lagi?”, (16/6) melalui media zoom dan youtube. Hadir pada acara diskusi ini beberapa perwakilan pemerintah, akademisi,  lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan pengusaha.

Prof Dr Eko Sri Wiyono, dosen IPB University dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), bicara terkait Keragaan Sosial-Ekonomi dan Strategi Adaptasi Nelayan Cantrang. Dalam paparannya, Prof Eko mengungkapkan bahwa usaha perikanan cantrang memiliki multiplier yang sangat besar, karena turunan usaha perikanan lainnya sangat terdampak dengan kebijakan pelarangan cantrang tersebut. Hal inilah yang menimbulkan tentangan keras dari para pelaku usaha perikanan di berbagai daerah, utamanya nelayan-nelayan pantai utara Jawa.

Berdasarkan hal tersebut, Dr Budy Wiryawan, dosen IPB University yang juga dari Departemen PSP,  dalam paparannya yang berjudul “Dampak Terhadap Sumberdaya Ikan dan Ekosistemnya”, mengingatkan bahwa kebijakan cantrang perlu dikelola, bukan hanya melarang. Instrumen pengelolaan melalui input-output control dan close area atau close season. Untuk itu, diperlukan kajian yang komprehensif dalam pembuatan kebijakan operasionalisasi cantrang. Pada saat yang bersamaan, Darmawan menambahkan bahwa dalam pembuatan kebijakan perlu dukungan data dan informasi yang selama ini cenderung dilupakan. Selain itu, kebijakan pengelolaan cantrang tidak disamaratakan untuk semua tonase kapal ikan dan wilayah.

Terkait dengan operasionalisasi cantrang tersebut Prof Dr Ari Purbayanto, dosen IPB University yang merupakan Guru Besar di Departemen PSP berbicara Aspek Teknis dan Tingkah Laku Ikan pada Pengoperasian Cantrang. Prof Ary mengingatkan tentang perlunya penerapan alat tangkap cantrang sesuai standar nasional Indonesia. Penerapan cantrang berstandar nasional Indonesia (SNI) dijadikan acuan dalam kegiatan pengawasan, dengan penerapan sanksi hukum yang tegas terhadap setiap pelanggaran. (dh/Zul)

 

Resources: https://ipb.ac.id/news/index/2020/06/legalisasi-cantrang-perlu-kebijakan-berbasiskan-data-dan-informasi/077cdf37ce328f8ba50176b8b299af34

HILIRISASI INOVASI RUMPON PORTABLE KE PT AGUNG SAMUDRA SUMATERA ABADI (PT ASSA) DAN SEKOLAH. TINGGI PERIKANAN DAN KELAUTAN MATAULI (STPK MATAULI)

Pada hari Jumat, 8 Mei 2020 pukul 10.00-11.30 WIB telah berlangsung persentasi dan diskusi mengenai  eFAD (Rumpon Portable) bersama PT Agung Samudra Sumatera Abadi, Tapanuli Tengah dan perwakilan dosen Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli (STPK Matauli). PT Agung Samudra Sumatera Abadi yang lebih dikenal sebagai PT ASSA adalah salah satu perusahaan produksi perikanan tangkap terbesar di Kabupaten Tapanuli Tengah. PT ASSA bergerak dibidang cold storage, dan juga trading ikan. Pertemuan dihadiri langsung oleh General Manager perusahaan yaitu Bapak Dadang Ginting S.Pi, Eko Rahmat dan Frans Sembiring serta beberapa dosen Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli (STPK Matauli) serta inventor dan tim dari eFAD (Rumpon Portable) yaitu Dr Roza Yusfiandayani, S.Pi. dan M. Fathan Alfikri.

Dalam paparannya Dr Roza Yusfiandayani, S.Pi yang merupakan dosen di Departemen Pemanfaatan Smberdaya Perikanan, FPIK IPB, menjelaskan bahwa eFAD (Rumpon Portable) dapat menggantikan peran serta fungsi dari Rumpon Konvensional yang selama ini, para nelayan tangkap menggunakan rumpon konvensional tersebut dalam melakukan aktivitas perikanan tangkap. Rumpon konvensional yang dalam proses pembuatannya berasal dari daun pinang atau daun-daun alami dan biasanya di letakkan di beberapa daerah penangkapan ikan sering kali mengalami kendala-kendala seperti hilang dicuri, terbawa arus, dan atraktor daun alami harus diganti setiap 1 bulan sekali, serta memiliki umur pakai yang pendek yaitu sekitar 3-6 bulan. Dalam diskusinya, Dr Roza Yusfiandayani, S.Pi menjelaskan bahwa eFAD (Rumpon Portable) adalah inovasi alat bantu penangkapan yang menggunakan fitur frekuensi suara untuk mengumpulkan ikan, frekuensi suara dapat menyala otomatis di dalam air, menggunakan koper khusus untuk penyimpanan sehingga praktis dan mudah dibawa di lokasi penangkapan yang diinginkan dan jika sudah selesai melakukan penangkapan ikan dapat dibawa kembali ke rumah, sehingga meminimalisir dampak hilang ataupun terbawa arus. Roza juga menjelaskan mengenai hasil riset eFAD (Rumpon Portable) sejak tahun 2013 di beberapa perairan di Indonesia dan hasil yang tangkapannya adalah tuna, cakalang, tongkol, todak, layang, selar, hingga cumi-cumi. eFAD (Rumpon Portable) di perairan Aceh Utara dapat meningkatkan hasil tangkapan 45,88%, nelayan menghemat dana operasional penangkapan ikan sebesar 43,35% dan nelayan mendapatkan keuntungan sampai 48% dibandingkan dengan nelayan yang tidak menggunakan eFAD dengan alat tangkap handline. eFAD (Rumpon Portable) di perairan Teluk Banten dapat meningkatkan hasil tangkapan 17,64%, nelayan menghemat dana operasional penangkapan ikan sebesar 20,45% dan nelayan mendapatkan keuntungan sampai 21,37% dibandingkan dengan nelayan yang tidak menggunakan eFAD dengan alat tangkap gillnet.

Rangkaian diskusi dan presentasi ditutup dengan harapan eFAD (Rumpon Portable) dapat diimplementasikan di Perairan Pantai Barat Sumatera Tapanuli Tengah dan Sibolga. PT ASSA tertarik dan siap memfasilitasi uji coba generasi baru eFAD (Rumpon Portable) menggunakan platform android di perairan Tapanuli Tengah Sibolga menggunakan alat tangkap jenis Purse Seine. Bapak Dadang Ginting  sebagai General Manager Perusahaan PT ASSA senang sekali atas penemuan eFAD (Rumpon Portable)  merupakan inovasi sebagai solusi yang dapat membantu nelayan perikanan tangkap, dan beliau berharap teknologi ini terus dikembangkan dan berdampak baik pada nelayan dan aktivitas perikanan di Indonesia.

– Humas PSP FPIK IPB –

1 2 3 28